dalam kitab amtsilatut tasrifiyyah yang menerangkan tentang ilmu
shorof ketika mentashrif kalimah -tak peduli pada wazan tsulatsi maupun
ruba'i, mujarrod maupun mazid atapun pada wazan lainnya- mbah mushonif
pertama kali menggunakan contoh kalimah "fa'ala" baru kemudian
menggunakan contoh kalimah yang lain "nashoro", "fataha" atau yang lain.
kenapa fa'ala? mungkin sang mushonif ingin menunjukkan pada kita bahwa jika ingin bisa menguasai ilmu shorof -ataupun ilmu yang lain- maka yang pertama kali harus kita lakukan fa'ala (melakukan perbuatan nyata) masalah nanti bisa atau tidak, mudah atau sulit, hasilnya bagus atau tidak itu masalah belakang tapi yang pertama harus kita lakukan adalah berani untuk fa'ala. jika kita sudah fa'ala dan ternyata masih mengalami kesulitan siapa tahu nanti ada nashoro (pertolongan) atau bahkan jika kita beruntung kita akan bertemu dengan fataha (terbukanya ilmu).
jadi seperti slogan salah satu merk alat olahraga terkenal "just do it". (Harisun Alaikum-Gresik)
kenapa fa'ala? mungkin sang mushonif ingin menunjukkan pada kita bahwa jika ingin bisa menguasai ilmu shorof -ataupun ilmu yang lain- maka yang pertama kali harus kita lakukan fa'ala (melakukan perbuatan nyata) masalah nanti bisa atau tidak, mudah atau sulit, hasilnya bagus atau tidak itu masalah belakang tapi yang pertama harus kita lakukan adalah berani untuk fa'ala. jika kita sudah fa'ala dan ternyata masih mengalami kesulitan siapa tahu nanti ada nashoro (pertolongan) atau bahkan jika kita beruntung kita akan bertemu dengan fataha (terbukanya ilmu).
jadi seperti slogan salah satu merk alat olahraga terkenal "just do it". (Harisun Alaikum-Gresik)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar