Judul kitab : Nashaih al-‘Ibad Syarh al-Munbbihat ‘ala al-Istimdad
li Yaum al-Ma‘ad li Al-Imam Syihab ad-Din Ahmad ibn Hajar
Penulis : Syaikh Muhammad An-Nawawi bin Umar Al-Jawi
“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua
anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk penghormatan dari-Mu bagi
mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi SAW.”
Syaikh Nawawi bin Umar Al-Jawi,
menjelaskan ungkapan Imam Ibnu Hajar RA, berkata, “Imam Ibnu Hajar RA
berkata, ‘Telah mengijazahkan kepadaku Sayyidi As-Sayyid Ahmad Al-Mirshafi
Al-Mishri setelah sebelumnya aku diijazahi oleh guruku, Sayyidi As-Sayyid
Abdul Wahhab bin Ahmad Farhat Asy-Syafi`i, dari masyayikh mereka, secara musalsal
bil awwaliyah, sampai kepada Abdullah bin Umar bin Ash` dari Nabi SAW,
bahwa beliau, Sayyidul Akhlaq wal Khalaiq (Penghulu sekalian Akhlaq
Mulia dan sekalian Makhluk), SAW bersabda, ‘Orang-orang yang hatinya penuh
kasih sayang disayangi oleh Yang Maha Pemilik kasih sayang Tabaraka wa
Ta`ala. Maka sayangi dan kasihilah siapa pun yang ada di muka bumi,
niscaya kalian akan disayangi dan dikasihi oleh siapa pun yang ada di
langit.’”
Imam Ali bin Abi Thalib RA
berkata, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau
dalam pandangan nafsu seburuk-buruk manusia dan jadilah engkau seseorang di
antara manusia.”
Makna ungkapan Imam Ali bin Abi
Thalib, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau
dalam pandangan nafsu seburuk-buruk manusia”, janganlah pernah merasa memiliki
kemuliaan yang membuatmu merasa lebih baik dari orang lain.
Makna ini sebagaimana dikatakan
oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, qaddasallahu sirrahu. Beliau
berkata, “Apabila bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau melihatnya
lebih mulia atas dirimu dan engkau katakan, ‘Tentu ia lebih baik dan lebih
tinggi derajatnya dariku di sisi Allah SWT.’
Bila yang engkau jumpai adalah seorang
anak yang masih belia usianya, katakanlah, ‘Anak ini sungguh belum berbuat
durhaka kepada Allah SWT sedang aku sungguh teramat banyak berbuat durhaka
dan kemaksiatan kepada-Nya. Sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik
dariku.’ Dan bila yang engkau jumpai adalah seseorang yang sudah berumur,
katakanlah, ‘Sungguh orang ini lebih dahulu beribadah kepada Allah SWT jauh
sebelum aku, (maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’
Bila yang engkau jumpai adalah seorang
yang alim berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini telah dianugerahi sesuatu
yang belum diberikan kepadaku, telah sampai kepada pengetahuan yang aku belum
mengetahuinya, telah mengetahui berbagai sesuatu yang belum aku ketahui, dan
ia beramal dengan ilmunya, (sedang aku beramal dengan kebodohanku, maka
sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’
Bila yang engkau jumpai adalah seorang
yang bodoh, tidak berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini, bilapun berbuat
dosa, ia berbuat dosa dengan kebodohannya, sedangkan aku berbuat dosa dengan
ilmuku, dan sungguh aku tidak tahu bagaimana keadaannya di saat-saat kematian
datang menjemput dan tidak tahu pula bagaimana diriku di saat-saat kematian
menjemput diriku nantinya.’
Bila yang engkau jumpai adalah seorang
yang kafir, katakanlah, ‘Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi kelak ia akan
mati dengan husnul khatimah dan amal yang baik sedang aku boleh jadi pula
akan menjadi kafir dan mati dalam keadaan su’ul khatimah — na`udzu
billahi min dzalik (Sehingga, bila demikian adanya, sungguh tiada
diragukan bila ia akan lebih baik dariku)’.”
Adapun ungkapan beliau, “…dan jadilah
engkau seseorang di antara manusia”, maknanya adalah bahwa sesungguhnya
Allah SWT membenci melihat seorang hamba yang membeda-bedakan diri dari
orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi SAW.
Itulah sebabnya, sebagian ulama banyak
mendawamkan doa ini dalam munajat mereka.
Allaahummaj‘alnii
shabuuraa waj‘alni syakuuraa waj‘alni fi ‘ainii shaghiiraa wa fii a‘yuninnasi
kabiiraa.
“Ya Allah, jadikanlah hambamu ini
seorang yang sabar, dan jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa bersyukur
atas segala karunia-Mu. Jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa
merasa kecil dalam pandangan mataku dan besar dalam pandangan manusia.”
Maknanya, orang-orang yang hatinya
penuh dengan sifat-sifat kasih sayang dan belas kasih terhadap siapa pun yang
ada di atas permukaan bumi, baik dari kalangan anak Adam bahkan juga hewan,
selain hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, dengan berbuat
kebaikan terhadap mereka, niscaya Yang Maha Rahman akan mengasihi dan
mencintainya. Karena itulah sayangi dan belas kasihilah siapa pun yang dapat
engkau sayangi dari berbagai macam dan jenis makhluk Allah SWT, bahkan yang
tidak memiliki akal sekalipun, dengan memberikan kasih sayang, berbuat baik
kepada mereka, dan banyak mendoakan mereka dengan doa rahmat dan ampunan,
niscaya kalian akan disayangi dan dikasihi oleh para malaikat dan Dia, Yang
rahmat-Nya meliputi bagi seluruh penduduk langit, yang jumlah mereka jauh
lebih besar dari jumlah penduduk bumi.
Seorang shalihin bermimpi bertemu
Imam Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali pun ditanya, “Apa yang Allah SWT perbuat
padamu?”
Imam Al-Ghazali menjawab, “Aku
dibawa dan dihadapkan di hadapan-Nya kemudian Allah SWT berfirman kepadaku,
‘Dengan bekal apa engkau menghadap-Ku?’
Maka aku pun mulai menyebutkan
amal-amalku.
Lalu Allah SWT berfirman, ‘Aku
tidak menerimanya. Sesungguhnya yang Aku terima darimu adalah saat suatu hari
seekor lalat singgah di atas tempat tintamu untuk minum darinya di saat engkau
tengah menulis. Kemudian engkau tidak melanjutkan menulis sampai lalat itu
kenyang menghirup darinya karena engkau berbelas kasih terhadapnya.’
Kemudian Allah SWT berfirman, ‘Wahai
para malaikat-Ku, bawalah hambaku ini dan hantarkan ia ke dalam surga’.”
Teramat mahalnya nilai kasih
sayang ini, bahkan Syaikh Nawawi menegaskan, dan di antara sebab yang mendatangkan
husnul khatimah di antaranya adalah mendawamkan doa berikut ini:
Allaahumma akrim
hadzihil-ummatal muhammadiyyah bi jamiili ‘awa-idika fid-daarain ikraaman
liman ja‘altahaa min ummatihi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.
“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi
Muhammad ini dengan semua anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk
penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian
dari umat Baginda Nabi SAW.”
Di antaranya pula mendawamkan doa
berikut ini di antara sunnah Subuh dan fardhunya:
Allaahummaghfir li
ummati sayyidinaa Muhammad. Allaahummarham ummata sayyidinaa muhaamad.
Allaahummastur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaahummajbur ummata sayyidinaa
Muhammad. Allaahumma ashlih ummata sayyidinaa Muhammad. Allahumma ‘aafi
ummata sayyidina Muhammad. Allahummahfazh ummata sayyidinaa Muhammad.
Allahummarham ummata sayyidinaa Muhammad rahmatan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin.
Allaahummaghfir li ummati sayyidinaa muhmmad maghfiratan ‘aammah ya
rabbal‘aalamiin. Allaahumma farrij ‘an ummati sayyidinaa muhammad farajan
‘aajilan ya rabbal ‘aalamiin.
“Ya Allah, ampunilah umat penghulu
kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad.
Ya Allah, tutupilah (segala aib dan cela) umat penghulu kami, Nabi Muhammad.
Ya Allah, tamballah (segala kekuarangan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad.
Ya Allah, perbaikilah (keadaan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah,
sehatkan dan sejahterakanlah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah,
peliharalah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat
penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan seru
sekalian alam. Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan
ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, berikanlah
kelapangan bagi umat penghulu kami, Nabi Muhammad, kelapangan yang segera
tiada tertunda, wahai Tuhan seru sekalian alam.”
Juga dengan mendawamkan doa
berikut ini:
Ya rabba kulli syai’
biqudratika ‘alaa kulli syai’ ighfir lii kulla syai’ wa laa tasalnii ‘an
kulli syai’ wa laa tuhaasibnii fii kulli syai’ wa a‘thinii kulla syai’.
“Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan
kekuasaan-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku atas segala sesuatu (dari
kesalahan yang aku lakukan), jangan Engkau pertanyai aku tentang segala
sesuatu (dari dosa dan kedurhakaan yang aku perbuat), jangan Engkau hisab
aku pada segala sesuatu (dari semua keburukan yang aku berani untuk melakukannya),
dan karuniakanlah kepadaku segala sesuatu (dari segala kebaikan di dunia
dan akhirat).”
|
Sabtu, 10 September 2016
Kitab Beberapa Nashihat Para Ahli Ibadah (Nashoihul 'Ibad)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar