Sabtu, 03 September 2016

Mutiara Qur'aniyyah

Asssalamu’alaikum Warohmtullohi Wabarokatuh
BismillahirRohmanirRohim.
الحمد لله ال >ى جعل اهل القراءن من اهل وخاصته. والصلاة والسلام على سيدنا محمد القائل : إقرؤالقراءن فإنه يأتىي يوم القيامة شفيعا لأصحابه وعلى اله وصحبه والتا بعين لسنته. بعدالا تكال علىالله سبحانه وتعلى.
Bersama ini,  saya melihat “Risalatul Qurro’ Wal Huffadz ini, yang di karang oleh anak saya Abdulloh Umar (dari semarang). Saya melihat dari awal hingga akhir, saya bersaksi bahwa semua yang sudah di terangkan sudah benar, beserta saya mempunyai keyakinan bahwa ini risalah, meskipun kecil bentuknya akan tetapi banyak faedahnya. Karena dalam risalah itu di terangkan bacaan - bacaan yang para pembaca Al qur’an masih banyak sekali yang masih kurang mengerti atau masih banyak yang ragu cara membacanya. Oleh karena itu para saudaraku semua. Lebih lebih para pembaca Al Qur’an, semoga mau melihat Risalah ini serta mengamalkan isinya, sebab jangan sampai kita tergolong dalam pengancam hadisnya Nabi Sollallohu ‘Alahi Wasallam:رب قرئ للقران والقران يلعنه   yang artinya “ Banyak sekali orang yang membaca Al Qur’an. Qur’an yang di baca malah tidak bisa mensyafaati  kepada orang yang membaca, akan tetapi malah mela’nati (membenci) karena membacanya sembrono, hanya semaunya dirinya. Tidak di gurukan”.
Maka dari itu pesan saya, disamping anda melihat dan mengamalkan isi Risalah ini. Anda lebih dulu musyafahah (menggurukan bacaan Al Qur’an) kepada guru Al Qur’an yang sudah di izini gurunya. Kita sudah di beri tauladan dari  tindak lampah (perbuatan) Gusti Rosul SollalLohu ‘Alahi Wasallam ketika menerima wahyu Al Qur’an. Seperti apa proses Gusti RosulluLloh bisa membaca Qur’an dan bisa fasih. Tidak terkecuali hanya dari menerima bimbingan Malaikat Jibril ‘Alaihissalam. Jadi bisa di bilang bahwa Malaikat Jibril adalah gurunya Gusti Rosul.  Yang sesungguhnya pangkat kedudukan Malaikat Jibril itu di bawah kedudukan Rosululloh.  Bisa di tarik kesimpulan bahwa orang yang mengaji Al Qur’an  itu jangan sampai melihat pangkat/ kedudukan gurunya. Meskipun pangkat gurunya itu rendah, masih muda atau fakir, atau  di lihat dari pekerjaanya, jangan sampai kita malu mengaji/ menggurukan Al Qur’an kepadanya.
Hanya karena pangkat anda lebih tua atau lebih kaya atau lebih tinggi hasil pekerjaan anda. RosulluLloh berkata : خ> الحكمة
     ولو من اي وعاء كاتت “ambillah ilmu hikmah walaupun ilmu tadi ketemu di tempat manapun”.
Gusti Rosul mendapatlan pembelajaran Al Qur’an dari malaikat jibril dari satu ayat satu sampai sehatamnya, hingga 23 tahun lamanya.
Keadaan yang seperti itu juga harus kita laksanakan , bila kita kepingin bisa membaca Al Qur’an yang baik dan benar kecuali kita harus menggurukan kita juga harus sabar, harus telaten dengan lamanya waktu. Jangan sampai tergesa gesa hanya mengejar cepat hatam. Lebih lebih Gusti RosullulLoh setiap malamnya bulan romadhon (darus)  ayat ayatan Qur’an yang sudah di terima/ di ajarkan. Semuanya di sima’kan lagi kepada Malaikat Jibril dengan cara darusan (gentian membaca) dengan maksud berhati hati (bacaan yang sudah di ajarkan) bila ada yang masih keliru.
Kejadian yang seperti itu menunjukkan kepada kita semua, bahwa kita bila mana sudah berhasil bisa membaca Al Qur’an yang baik dan benar, di usahakan selanjutnya di buat darusan dengan guru anda (di sima’kan lagi) atau dengan teman teman anda.
Dari awal keterangan saya , semuaanya sudah terang bahwa Gusti RosulluLloh bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar itu :
1). Harus di gurukan
2). Lama masanya
3). Harus di buat darusan (sering di ulang ulang).
Maka dari itu siapa saja yang kepingin bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, serta mendapatkan Ridho AlLoh itu harus mengikuti apa yang sudah di lakukan Gusti RosulluLloh. Harus di gurukan terlebih dahulu. Tidak cukup hanya di akal akal sendiri, di cocok cocokkan sendiri.
Saya cukupkan sampai di sini saja kata dari saya. Bila mana ada kesalahan tolong di luruskan . terimakasih.
ربنا اتنا من لدنك رحمة وهئلنا من امرنا رشدا
Wassalam.
تراب الأقدام
محمد اروانى

Tulisan beliau ini yang asal mulanya pengantar dari kitab “Risalatul Qurro’ Wal Huffadz fi Ghoroibil Qiroat wal Al fadz” yang di tulis oleh beliau Kiai Abdulloh Umar Bin Baidhowi Kudus, Rois Jamiyyah Qurro’ Wal Huffadz Semarang. Sangat di sayangkan bila mana mutiara beliau ini kita lewatkan. Yang mulanya tulisan sambutan Mbah Arwani berupa tulisan arab pegon jawa, kami mencoba translet kebahasa indonesia. Semoga bermanfaat.
Salam

Diterjemahkan oleh Ust Nafi'uddin 'Abid (Klaten)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar