BismillahirRohmanirRohim.
الحمد لله ال >ى جعل اهل القراءن من اهل وخاصته. والصلاة والسلام
على سيدنا محمد القائل : إقرؤالقراءن فإنه يأتىي يوم القيامة شفيعا لأصحابه وعلى
اله وصحبه والتا بعين لسنته. بعدالا تكال علىالله سبحانه وتعلى.
Bersama ini, saya melihat “Risalatul Qurro’ Wal Huffadz” ini, yang di karang oleh
anak saya Abdulloh Umar (dari
semarang). Saya melihat dari awal hingga akhir, saya bersaksi
bahwa semua yang sudah di terangkan sudah benar, beserta saya mempunyai
keyakinan bahwa ini risalah, meskipun kecil bentuknya akan tetapi banyak
faedahnya. Karena dalam risalah itu di terangkan bacaan - bacaan yang para
pembaca Al qur’an masih banyak sekali yang masih kurang mengerti atau masih
banyak yang ragu cara membacanya. Oleh karena itu para saudaraku semua. Lebih
lebih para pembaca Al Qur’an, semoga mau melihat Risalah ini serta mengamalkan
isinya, sebab jangan sampai kita tergolong dalam pengancam hadisnya Nabi Sollallohu
‘Alahi Wasallam:رب قرئ
للقران والقران يلعنه yang artinya “ Banyak sekali orang yang
membaca Al Qur’an. Qur’an yang di baca malah tidak bisa mensyafaati kepada orang yang membaca, akan tetapi malah
mela’nati (membenci) karena membacanya sembrono, hanya semaunya dirinya. Tidak
di gurukan”.
Maka dari itu pesan saya, disamping anda melihat dan
mengamalkan isi Risalah ini. Anda lebih dulu musyafahah (menggurukan bacaan
Al Qur’an) kepada guru Al Qur’an yang sudah di izini gurunya. Kita sudah di
beri tauladan dari tindak lampah (perbuatan)
Gusti Rosul SollalLohu ‘Alahi Wasallam ketika menerima wahyu Al Qur’an.
Seperti apa proses Gusti RosulluLloh bisa membaca Qur’an dan bisa fasih. Tidak
terkecuali hanya dari menerima bimbingan Malaikat Jibril ‘Alaihissalam.
Jadi bisa di bilang bahwa Malaikat Jibril adalah gurunya Gusti Rosul. Yang sesungguhnya pangkat kedudukan Malaikat
Jibril itu di bawah kedudukan Rosululloh.
Bisa di tarik kesimpulan bahwa orang yang mengaji Al Qur’an itu jangan sampai melihat pangkat/ kedudukan
gurunya. Meskipun pangkat gurunya itu rendah, masih muda atau fakir, atau di lihat dari pekerjaanya, jangan sampai
kita malu mengaji/ menggurukan Al Qur’an kepadanya.
Hanya karena
pangkat anda lebih tua atau lebih kaya atau lebih tinggi hasil pekerjaan anda.
RosulluLloh berkata : خ>
الحكمة
ولو من
اي وعاء كاتت “ambillah ilmu hikmah walaupun ilmu
tadi ketemu di tempat manapun”.
Gusti Rosul mendapatlan
pembelajaran Al Qur’an dari malaikat jibril dari satu ayat satu sampai
sehatamnya, hingga 23 tahun lamanya.
Keadaan yang seperti itu juga harus kita laksanakan , bila
kita kepingin bisa membaca Al Qur’an yang baik dan benar kecuali kita harus
menggurukan kita juga harus sabar, harus telaten dengan lamanya waktu. Jangan
sampai tergesa gesa hanya mengejar cepat hatam. Lebih lebih Gusti RosullulLoh
setiap malamnya bulan romadhon (darus) ayat ayatan Qur’an yang sudah di terima/ di
ajarkan. Semuanya di sima’kan lagi kepada Malaikat Jibril dengan cara
darusan (gentian membaca) dengan maksud berhati hati (bacaan yang
sudah di ajarkan) bila ada yang masih keliru.
Kejadian yang seperti itu menunjukkan kepada kita semua,
bahwa kita bila mana sudah berhasil bisa membaca Al Qur’an yang baik dan benar,
di usahakan selanjutnya di buat darusan dengan guru anda (di sima’kan lagi)
atau dengan teman teman anda.
Dari awal
keterangan saya , semuaanya sudah terang bahwa Gusti RosulluLloh bisa membaca
Al Qur’an dengan baik dan benar itu :
1). Harus di
gurukan
2). Lama
masanya
3). Harus di
buat darusan (sering di ulang ulang).
Maka dari itu siapa saja yang kepingin bisa membaca Al Qur’an
dengan baik dan benar, serta mendapatkan Ridho AlLoh itu harus mengikuti apa
yang sudah di lakukan Gusti RosulluLloh. Harus di gurukan terlebih dahulu.
Tidak cukup hanya di akal akal sendiri, di cocok cocokkan sendiri.
Saya
cukupkan sampai di sini saja kata dari saya. Bila mana ada kesalahan tolong di
luruskan . terimakasih.
ربنا اتنا من لدنك رحمة وهئلنا من امرنا رشدا
Wassalam.
تراب الأقدام
محمد اروانى
Tulisan beliau ini
yang asal mulanya pengantar dari kitab “Risalatul Qurro’ Wal Huffadz fi Ghoroibil
Qiroat wal Al fadz” yang di tulis oleh beliau Kiai Abdulloh Umar Bin Baidhowi
Kudus, Rois Jamiyyah Qurro’ Wal Huffadz Semarang. Sangat di sayangkan bila mana
mutiara beliau ini kita lewatkan. Yang mulanya tulisan sambutan Mbah Arwani
berupa tulisan arab pegon jawa, kami mencoba translet kebahasa indonesia.
Semoga bermanfaat.
Salam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar