Pernah suatu ketika aku njagong bareng dengan seorang santri,temanku,tentang kitab pegon yg keberadaannya hampir tak dianggap.
Dia punya lumayan banyak koleksi kitab pegon,sedangkan diriku hanya beberapa gelintir saja yg kupunya.
Kitab pegon di pesantren sebenarnya perannya tak kalah besar bila dibandingkan kitab-kitab kuning yg banyak digunakan.
Pertama kali saya mondok pun kitab fasholatan karya KH.R.Asnawi Kudus yg pertama diajarkan,alasannya kandungan fasholatan cukup fital dalam kehidupan sehari-hari dan yg jelas kitab fasholatan adalah permulaan untuk menuju mengaji kitab kuning.
Bila anda santri,anda pasti tahu kitab kuning itu dimaknai secara pegon,dari kitab fasholatan itulah para santri belajar menulis dan membaca arab pegon selain belajar sholat.
Setelah njagong kitab arab pegon pada majlis kopi ala santri,temanku bermaksud menerjemahkan beberapa kecil isi kitab arab pegon dan sekarang dia sudah merampungkan satu kitab.
Kata temanku,kurang diperhatikannya kitab arab pegon karena ketidaktahuan bahasa jawa kuno yg digunakan,ada pula dari mereka yg malas atau mungkin sama sekali tidak membaca arab pegon.
Kedalaman isi dan murahnya kitab tidak berpengaruh sedikit pun minat santri pada kitab arab pegon,padahal kitab arab pegon tidak melulu berbicara shalat seperti fasholatan yg terkenal itu.fan ilmu yg dibicarakan cukup merata,bila diberi kesempatan suatu saat saya ingin mengumpulkan kitab-kitab arab pegon dari berbagai fan yg bukan terjemahan dari kitab kuning tentunya.
Untuk urusan translet ke bahasa indonesia temanku cukup semangat karena dia sudah menghasilkan tulisan,aku sendiri yg bermaksud meresensi kitab pegon belum satu kitab pun aku resensi,demi budaya arab pegon yg hampir punah saya dan temanku njagong.
Aku sendiri semakin prihatin akan keberadaan kitab arab pegon,saat aku search di google,yg muncul bukan informasi isi maupun resensi melainkan hanya daftar kitab arab pegon yg telah diterbitkan,ini membuatku makin miris,kitabnya murah namun kurang laku karena kurangnya informasi.
Dahulu Abahku langganan majalah al-kisah dan ada rubrik khusus arab pegon,entah tahun berapa saja rubrik itu muncul di majalahnya para muhibbin.
Dia punya lumayan banyak koleksi kitab pegon,sedangkan diriku hanya beberapa gelintir saja yg kupunya.
Kitab pegon di pesantren sebenarnya perannya tak kalah besar bila dibandingkan kitab-kitab kuning yg banyak digunakan.
Pertama kali saya mondok pun kitab fasholatan karya KH.R.Asnawi Kudus yg pertama diajarkan,alasannya kandungan fasholatan cukup fital dalam kehidupan sehari-hari dan yg jelas kitab fasholatan adalah permulaan untuk menuju mengaji kitab kuning.
Bila anda santri,anda pasti tahu kitab kuning itu dimaknai secara pegon,dari kitab fasholatan itulah para santri belajar menulis dan membaca arab pegon selain belajar sholat.
Setelah njagong kitab arab pegon pada majlis kopi ala santri,temanku bermaksud menerjemahkan beberapa kecil isi kitab arab pegon dan sekarang dia sudah merampungkan satu kitab.
Kata temanku,kurang diperhatikannya kitab arab pegon karena ketidaktahuan bahasa jawa kuno yg digunakan,ada pula dari mereka yg malas atau mungkin sama sekali tidak membaca arab pegon.
Kedalaman isi dan murahnya kitab tidak berpengaruh sedikit pun minat santri pada kitab arab pegon,padahal kitab arab pegon tidak melulu berbicara shalat seperti fasholatan yg terkenal itu.fan ilmu yg dibicarakan cukup merata,bila diberi kesempatan suatu saat saya ingin mengumpulkan kitab-kitab arab pegon dari berbagai fan yg bukan terjemahan dari kitab kuning tentunya.
Untuk urusan translet ke bahasa indonesia temanku cukup semangat karena dia sudah menghasilkan tulisan,aku sendiri yg bermaksud meresensi kitab pegon belum satu kitab pun aku resensi,demi budaya arab pegon yg hampir punah saya dan temanku njagong.
Aku sendiri semakin prihatin akan keberadaan kitab arab pegon,saat aku search di google,yg muncul bukan informasi isi maupun resensi melainkan hanya daftar kitab arab pegon yg telah diterbitkan,ini membuatku makin miris,kitabnya murah namun kurang laku karena kurangnya informasi.
Dahulu Abahku langganan majalah al-kisah dan ada rubrik khusus arab pegon,entah tahun berapa saja rubrik itu muncul di majalahnya para muhibbin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar