Entah karena ini sudah ganti tahun menjadi 2014 atau apa,terminal di
indonesia terutama kota-kota besar masih menyajikan pemandangan
jahiliyah.
Disana-sini pada mencari nafkah dengan caranya masing-masing,ada yg menjadi calo,ada yg ngejual diri,ada pula ngamen sambil nyolong,itu saya lihat sendiri beberapa kali di terminal-terminal yg pernah saya singgahi.
Bila di lokalisasi,mereka pelacur,terang-terangan kerja haram dan semua orang tahu itu,lihatlah terminal seperti menunjukan wajah negri ini yg tidak tertata rapi dalam segala segi.
Segi ekonomi,rakyat kecil rela menjadi calo tiket dan menaikkan harga secara bombastis,ya,kalau penumpangnya orang kaya mungkin ulah calo bukanlah masalah besar,kekayaannya hanya kurang sedikit,sayangnya jarang sekali lho orang kaya rela naik bis jarak jauh kalau tidak benar-benar kepepet,terus bagaimana nasib orang miskin?mahasiswa?santri?kala terjerat ulah kotor calo?,untuk mengisi dompet saja masih kesulitan.
Saya ngga menyalahkan siapa-siapa dalam masalah ini,yang jelas di kota kelahiranku tegal calo-calo jarang menampakan batang tangannya.
Semarang sebagai kota besar masih perlu belajar dari kota-kota kecil pada masalah yg kayaknya di anggap masalah kecil oleh beberapa orang besar,sejak pertama sampai sekarang sama saja karena saya sendiri sudah berkali-kali ke terminal semarang.
Segi moral,lokalisasi terlihat jelas perilaku pekerjanya disana,namun pernahkah kita tahu apa yg menyebabkan mereka berada disana,saya yakin itu bukan kemauan mereka sendiri,ngga ada orang yg menginginkan kehidupan asusila menjadi bagiannya,seorang maling yg sudah terlanjur jadi maling juga asalnya ngga sengaja jadi maling,ada juga lho,bapaknya seorang maling tapi anaknya mondok di pesantren.di terminal asusila genre lokalisasi tak seberapa mewah,cuma,ngamen sambil nyopet ngga bisa disebut sebagai perbuatan susila.
Ah sudahlah,mengkritisi wajah negri ini tak ada habisnya,sampai kiamat kurang seminggu pun mungkin masih banyak yg luput dari kritikan orang-orang kecil atau yg merasa kecil.
Pemandangan terminal jauh untuk dibilang indah dimata dan hati,namun siapa yang tahu,diantara kegelapan ada cahaya tersembunyi.
Monggo ke terminal-terminal di indonesia,semoga pembaca bisa mengambil cahaya dari kegelapan.wallahu a'lam.
Disana-sini pada mencari nafkah dengan caranya masing-masing,ada yg menjadi calo,ada yg ngejual diri,ada pula ngamen sambil nyolong,itu saya lihat sendiri beberapa kali di terminal-terminal yg pernah saya singgahi.
Bila di lokalisasi,mereka pelacur,terang-terangan kerja haram dan semua orang tahu itu,lihatlah terminal seperti menunjukan wajah negri ini yg tidak tertata rapi dalam segala segi.
Segi ekonomi,rakyat kecil rela menjadi calo tiket dan menaikkan harga secara bombastis,ya,kalau penumpangnya orang kaya mungkin ulah calo bukanlah masalah besar,kekayaannya hanya kurang sedikit,sayangnya jarang sekali lho orang kaya rela naik bis jarak jauh kalau tidak benar-benar kepepet,terus bagaimana nasib orang miskin?mahasiswa?santri?kala terjerat ulah kotor calo?,untuk mengisi dompet saja masih kesulitan.
Saya ngga menyalahkan siapa-siapa dalam masalah ini,yang jelas di kota kelahiranku tegal calo-calo jarang menampakan batang tangannya.
Semarang sebagai kota besar masih perlu belajar dari kota-kota kecil pada masalah yg kayaknya di anggap masalah kecil oleh beberapa orang besar,sejak pertama sampai sekarang sama saja karena saya sendiri sudah berkali-kali ke terminal semarang.
Segi moral,lokalisasi terlihat jelas perilaku pekerjanya disana,namun pernahkah kita tahu apa yg menyebabkan mereka berada disana,saya yakin itu bukan kemauan mereka sendiri,ngga ada orang yg menginginkan kehidupan asusila menjadi bagiannya,seorang maling yg sudah terlanjur jadi maling juga asalnya ngga sengaja jadi maling,ada juga lho,bapaknya seorang maling tapi anaknya mondok di pesantren.di terminal asusila genre lokalisasi tak seberapa mewah,cuma,ngamen sambil nyopet ngga bisa disebut sebagai perbuatan susila.
Ah sudahlah,mengkritisi wajah negri ini tak ada habisnya,sampai kiamat kurang seminggu pun mungkin masih banyak yg luput dari kritikan orang-orang kecil atau yg merasa kecil.
Pemandangan terminal jauh untuk dibilang indah dimata dan hati,namun siapa yang tahu,diantara kegelapan ada cahaya tersembunyi.
Monggo ke terminal-terminal di indonesia,semoga pembaca bisa mengambil cahaya dari kegelapan.wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar