Jumat, 30 September 2016

Ngaji Bareng KH. Hasan Fauzi tentang Akhlaqul Karimah




Al hamdulillahirobbil 'alamin wabihi nasta'in 'ala umuriddunya waddin washolatuwassalamu'ala asrofil ambiyaai wal mursalin sayyidina wamaulana muhammadin wa'ala alihi wasoh bihi ajmain, wala haula wala quwwata illabillahil 'aliyyil 'adhim, amma ba'du.
Para teman teman pengurus Podok Tahfidz Yambu'ul Qur'an Lilbanin, para santri baik yang lama maupun yang baru yang selalu saya cintai , pertama kami ucapkan rasa puji syukur kepada Alloh subhanahu wata'ala yang telah memberikan beberapa kenikmatan dan hidayah kepada kita, hingga saat ini kita bisa berkumpul  pada kesempatan yang baik dengan tujuan ta'allum "belajar" akhlaqul karimah. Semoga pertemuan kita ini di Ridhoi Alloh Subhanahu weata'ala  dan bisa menghasilkan kemanfaatan baik di dunia dan akhirat.
Bagi para santri yang baru belajar, di samping mencari ilmu harus juga di barengi dengan akhlakul karimah , kami gambarkan seperti  ilmu seperti pohon dan ahlak seperti pupuknya, punya pohon tapi tidak di pupuk  bisa pohonnya tumbuh tidak sehat bahkan pohon itu bisa mati , begitu juga bila kita punya pupuk saja tidak punya pohonya juga akan percuma.  Sayyidina  Ali mengungkapkan 
شرف الاءنسان بلعلم والأدب
Manusia itu akan mulia bila di dasari dengan ilmu dan budi pekerti yang baik.
Punya ilmu sampai sundul langitpun bila tidak ada akhlaknya  percuma, di contohkan punya ilmu akan tetapi bila berbicara kepada orang lain selalu membentak atau berkata kasar maka akan tidak terhormat orang itu. Maka  ilmu dan akhlak harus berjalan secara bersamaan. Konsep menjadi orang yang mulia kita harus tau bagai mana akhlak kita kepada Alloh, harus tau bagai mana ahklak kepada nabi, para guru guru kita, sesama teman kita, sebab akhlak itu bentuknya bermacam macam , baik sesama muslim, terhadap teman kita yang sedang sakit , terhadap anak kecil , semua ada tata caranya yang sudah di contohkan rosul kepada kita. Orang dewasa kepada anak harus memberikan kasih sayang (rahmah), semuanya itu adalah ajaran nabi, beliau tidak hanya menyampaikan tapi juga beliau mempraktekannya.
Dalam Hadist Nabi pernah terjadi seorang shahabat (waroqoh) sedang sowan kepada beliau Rosul dan waktu itu Nabi sedang bermain dengan cucu beliau, ketika itu tamu tersebut melihat Nabi sedang mencium cucunya , dan si tamu pun secara spontan berucap, sungguh aku yang mempunyai anak sepuluh pun belum pernah mencium salah satu dari anak ku. Dan ketika itu nabi mendengar perkataan dari tamunya tersebut dan beliau berkata
                    ليس مني من لم يوقر كبيرنا ولم يرحم صغيرنا
maka bukan termasuk ummatku orang yang tidak memuliakan orang tua dan tidak saying kepada anak anak nya. Dalam riwayat lain,
من لا يرحم لم يرحم
Kita masuk surga bukan karena amal kita tapi karena fadhol dan Ridho Alloh, "dahulu ada orang yang ahli ibadah dan orang itu baik sekali, bahkan di beri umur panjang sampai 500 tahun tanpa bercampur dengan ma'siat , maka ketika itu Alloh perintah "masuklah engkau ke surga karena fadhol dan rahmad Ku.orang itu menjawab , karena amal ibadahku ya Robb, maka Alloh pun langsung menjawab sekarang masuklah keneraka. Di karenakan orang itu merasa bahwa amalnyalah yang menyebabkan bisa masuk surga.
وحفظ جناحك للمنين
 Di dalam alqur'an pun kita juda di perintah untuk bertawadhu' kepada sesama mu'min, tawadhuk itu  antara merendah diri dan sombong (tengah tengah)jadi kita harus tau posisi diri kita.
Suatu ketika sayyidina Ali mau melaksanakan jama'ah  sudah mau telat, ketika keluar dari rumah beliau di tengah perjalanan berjumpa dengan seseorang yang sudah tua, dan beliau sayyidina Ali berjalan di belakang orang itu, tidak mau mendahului sehingga beliau sangat lama sekali untuk sampai ke masjid. Oleh karena demikian! hikmahnya beliau tetap mendapatkan jamaah kepada nabi, dan kalau tidak ada kejadian itu mungkin beliau sudah tidak mendapatkan jamaah kepada nabi. Salah seorang shohabat setelah sholat ada yang bertanya kepada nabi , kenapa beliau waktu ruku' sholat terakhir menjadi ruku' yang begitu lama, beliau Nabi menjawab;punggung saya pada waktu ruku' terakhir di atasnya ada malaikat jibril 'alaihissalam, karena ada apa wahai nabi Tanya shahabat itu; karena di perjalanan masih ada sahabat Ali yang menghormati orang tua sehingga berjalan di belakangnya. "meskipun di depan shohabat Ali bukan seorang muslim".
Begitu juga di contohkan  beliau yai Hassan  waktu bertamu kesalah seorang yang lebih muda dari beliau, sang tuan rumah mempersilahkan dan menjamunya dengan memakai kaos oblong, itu adalah contoh  yang kurang baik,sebab akhlak itu sangat luas meliputi pakaian, ucapan , dan juga perbuatan.
Seperti juga sudah di contohkan waktu kejadian peristiwa akan berlabuhnya kapal Nabi Nuh alaihissalam, para gunung menawarkan diri untuk bisa mendapatkan kehormatan di labuhinya  kapal sang nabi, dengan menyebutkan beberapa keistimewaan gunung masing masing, akan tetapi ada salah satu gunung yang merasa kurang pantas untuk menerima labuhan kapal sang nabi karena gunung itu merasa kecil dan merasa tidak punya kelebihan di bandingkan gunung gunung yang lain, yaitu gunung judi. Akan tetapi dengan akhlaknya itu justru Alloh memilih dan memerintahkan sang nabi untuk melabuhkan kapalnya di gunung judi itu.
لباسكم يكرمكم قبل جلوسكم وعلمكم يكرمكم بعد جلوسكم
Pakaianmu memuliakan mu sebelum engkau duduk, dan ilmumu memuliakanmu setelah engkau duduk.
Di ceritakan beliau pernah menghadiri undangan dan beliau membawa sopir yang kebetulan memakai  peci haji, ketika sudah turun malah yang di salami sopirnya  bukan beliau, dan ketika sudah waktunya beliau memberi tausyiah orang orang baru tau yang di undang adalah yang memakai peci hitam yang tidak mereka salami.
Ilmu dengan akhlak/ budi pekerti memang harus di barengkan , dan ketika kita menjenguk orang sakit kita sebagai orang yang menjenguk juga harus memakai akhlak , kita membesarkan hatinya biar ada semangat untuk sembuh dari sakit itu, apalagi kita terhadap guru  yang sangat ada hubunganya dengan ilmu yang kita serap dari guru itu sendiri. Intinya  ahlak kepada guru itu mencari ridhonya , menjauhi marahnya dan mengikuti apa perintahnya selagi yang tidak melanggar syari'at/ ma'siat kepada Alloh . Termasuk ahklak kepada guru yaitu tidak berjalan di depan beliau kalau ada jalan lain lebih baik lewat jalan lain yang tidak melawati/ mendahului guru kita tersebut. Seperti ungkapan sayyidina Ali yang kurang lebih " aku melihat yang harus lebih di laksanakan melebihi hak adalah haknya seorang guru  karena sudah mengajar satu huruf kepada kita. Hak guru itu melebihi  haknya kepada kedua orang tua kita. Imam ghozali juga berpendapat karena orang tua kandung kita yang terpikirkan kebanyakan bagai mana anaknya mapan di dunia, bila seorang guru yang terpikirkan bagai mana kehidupan di akherat kelak bisa selamat  atau tidak, dan kehidupan akherat itu lebih baik dari pada kehidupan di dunia
والأخرة خير لك من الأولي
Sebab guru yang mengajar ngaji kita itu adalah bapak agama kita. Salah satu contoh ahlak kepada guru kita adalah "jangan pernah banyak Tanya kepada guru kita, santri kuno dulu bila bertamu/ punya hajat di rumah guru tidak pernak ketuk pintu/ pencet bel. Saya teringat kisahnya pada Mbah hasan mangli magelang, ketika mau sowan kepada Mbah arwani "nanti setelah isya' kesini ya? Kata mbah Arwani kepada mbah Hasan mangli. ketika mbah mangli kembali sowan kebetulan waktu itu keadaannya sangat sepi sekali, bahkan tidak ada seorang pun yang beliau jumpai, mbah mangli yang sudah di beri waktu setelah isya tidak berani ketuk pintu menunggu hingga sampai waktu pukul 03 pagi, lalu ketika sudah hampir subuh menjelang mbah mangli pergi di masjid menara kudus untuk melaksanakan sholat subuh di masjid itu, dan setelah subuh beliaupun kembali untuk menunggu di depan ndalem Mbah Arwani yang kebetulan waktu itu ketika sudah sampai di ndalem  Mbah Arwani sudah memulai aktifitas ngaji setelah subuh, dan akhirnya menunggu lagi sampai jam 07 pagi baru bertemu dengan Mbah Arwani. "lho tadi malam saya sudah menunggu di rumah kok , la kamu di mana? Tanya mbah arwani. " saya menunggu di luar ndalem yai, begitulah salah satu contoh ulama' kita dulu.
Imam fahruddin al arsyabandi adalah para pemimpin imam di marwa, beliau di sana menjadi sosok yang betul betul di hormati oleh semua kalangan, bahkan sang raja pun juga mengistimewakan beliau. Suatu ketika beliau di Tanya oleh seseorang, begitu mulianya anda? Kalau boleh tau amalan apa yang anda lakukan sampai bisa mendapatkan kemuliaan ini?. Saya rasa kan yang menjadi kan saya mulia, itu dikarenakan saya menghormati dan memuliakan guru saya Abu yazid al andalusi, saya menjadi tukang masak beliau, meskipun saya menjadi tukang masak saya tidak penah mencicipi masakan yang saya masak untuk beliau, sebab perintah beliau kepada saya hanya di suruh memasak saja dan beliau tidak pernah perintah selainya.
Yang terpenting bagi kita adalah bagai mana kita mempraktekkan ilmu kita , sebab tidak ada gunanya bila kita mempunyai ilmu dan kita tidak mengamalkannya. Sebab bila kita mau mengamalkan ilmu yang sudah kita peroleh maka Alloh akan memberikan ilmu ilmu yang lain kepada kita.
Mungkin cukup sekian semoga bermanfaat wassalam

Disampaikan oleh KH Hassan Fauzi  di auditorium PTYQ putra kudus  06 desember 2014 H
.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar