Al hamdulillahirobbil 'alamin wabihi
nasta'in 'ala umuriddunya waddin washolatuwassalamu'ala asrofil ambiyaai wal
mursalin sayyidina wamaulana muhammadin wa'ala alihi wasoh bihi ajmain, wala
haula wala quwwata illabillahil 'aliyyil 'adhim, amma ba'du.
Para teman teman pengurus Podok
Tahfidz Yambu'ul Qur'an Lilbanin, para santri baik yang lama maupun yang baru
yang selalu saya cintai , pertama kami ucapkan rasa puji syukur kepada Alloh
subhanahu wata'ala yang telah memberikan beberapa kenikmatan dan hidayah kepada
kita, hingga saat ini kita bisa berkumpul
pada kesempatan yang baik dengan tujuan ta'allum "belajar"
akhlaqul karimah. Semoga pertemuan kita ini di Ridhoi Alloh Subhanahu weata'ala dan bisa menghasilkan kemanfaatan baik di
dunia dan akhirat.
Bagi para santri yang baru belajar,
di samping mencari ilmu harus juga di barengi dengan akhlakul karimah , kami
gambarkan seperti ilmu seperti pohon dan
ahlak seperti pupuknya, punya pohon tapi tidak di pupuk bisa pohonnya tumbuh tidak sehat bahkan pohon
itu bisa mati , begitu juga bila kita punya pupuk saja tidak punya pohonya juga
akan percuma. Sayyidina Ali mengungkapkan
شرف الاءنسان بلعلم والأدب
Manusia itu akan mulia bila
di dasari dengan ilmu dan budi pekerti yang baik.
Punya ilmu sampai sundul langitpun
bila tidak ada akhlaknya percuma, di
contohkan punya ilmu akan tetapi bila berbicara kepada orang lain selalu membentak
atau berkata kasar maka akan tidak terhormat orang itu. Maka ilmu dan akhlak harus berjalan secara
bersamaan. Konsep menjadi orang yang mulia kita harus tau bagai mana akhlak
kita kepada Alloh, harus tau bagai mana ahklak kepada nabi, para guru guru
kita, sesama teman kita, sebab akhlak itu bentuknya bermacam macam , baik sesama
muslim, terhadap teman kita yang sedang sakit , terhadap anak kecil , semua ada
tata caranya yang sudah di contohkan rosul kepada kita. Orang dewasa kepada
anak harus memberikan kasih sayang (rahmah), semuanya itu adalah ajaran nabi,
beliau tidak hanya menyampaikan tapi juga beliau mempraktekannya.
Dalam Hadist Nabi pernah terjadi
seorang shahabat (waroqoh) sedang sowan kepada beliau Rosul dan waktu itu Nabi sedang
bermain dengan cucu beliau, ketika itu tamu tersebut melihat Nabi sedang
mencium cucunya , dan si tamu pun secara spontan berucap, sungguh aku yang
mempunyai anak sepuluh pun belum pernah mencium salah satu dari anak ku. Dan
ketika itu nabi mendengar perkataan dari tamunya tersebut dan beliau berkata
ليس مني من لم يوقر كبيرنا ولم يرحم صغيرنا
maka bukan termasuk ummatku
orang yang tidak memuliakan orang tua dan tidak saying kepada anak anak nya.
Dalam riwayat lain,
من لا يرحم لم يرحم
Kita masuk surga bukan karena amal
kita tapi karena fadhol dan Ridho Alloh, "dahulu ada orang yang ahli
ibadah dan orang itu baik sekali, bahkan di beri umur panjang sampai 500 tahun
tanpa bercampur dengan ma'siat , maka ketika itu Alloh perintah "masuklah
engkau ke surga karena fadhol dan rahmad Ku.orang itu menjawab , karena amal
ibadahku ya Robb, maka Alloh pun langsung menjawab sekarang masuklah keneraka.
Di karenakan orang itu merasa bahwa amalnyalah yang menyebabkan bisa masuk surga.
وحفظ جناحك للمنين
Di dalam alqur'an pun kita juda di perintah
untuk bertawadhu' kepada sesama mu'min, tawadhuk itu antara merendah diri dan sombong (tengah
tengah)jadi kita harus tau posisi diri kita.
Suatu ketika sayyidina Ali mau
melaksanakan jama'ah sudah mau telat,
ketika keluar dari rumah beliau di tengah perjalanan berjumpa dengan seseorang
yang sudah tua, dan beliau sayyidina Ali berjalan di belakang orang itu, tidak
mau mendahului sehingga beliau sangat lama sekali untuk sampai ke masjid. Oleh
karena demikian! hikmahnya beliau tetap mendapatkan jamaah kepada nabi, dan
kalau tidak ada kejadian itu mungkin beliau sudah tidak mendapatkan jamaah
kepada nabi. Salah seorang shohabat setelah sholat ada yang bertanya kepada
nabi , kenapa beliau waktu ruku' sholat terakhir menjadi ruku' yang begitu
lama, beliau Nabi menjawab;punggung saya pada waktu ruku' terakhir di atasnya
ada malaikat jibril 'alaihissalam, karena ada apa wahai nabi Tanya shahabat
itu; karena di perjalanan masih ada sahabat Ali yang menghormati orang tua
sehingga berjalan di belakangnya. "meskipun di depan shohabat Ali bukan
seorang muslim".
Begitu juga di contohkan beliau yai Hassan waktu bertamu kesalah seorang yang lebih muda
dari beliau, sang tuan rumah mempersilahkan dan menjamunya dengan memakai kaos
oblong, itu adalah contoh yang kurang
baik,sebab akhlak itu sangat luas meliputi pakaian, ucapan , dan juga
perbuatan.
Seperti juga sudah di contohkan waktu
kejadian peristiwa akan berlabuhnya kapal Nabi Nuh alaihissalam, para gunung
menawarkan diri untuk bisa mendapatkan kehormatan di labuhinya kapal sang nabi, dengan menyebutkan beberapa
keistimewaan gunung masing masing, akan tetapi ada salah satu gunung yang
merasa kurang pantas untuk menerima labuhan kapal sang nabi karena gunung itu
merasa kecil dan merasa tidak punya kelebihan di bandingkan gunung gunung yang
lain, yaitu gunung judi. Akan tetapi dengan akhlaknya itu justru Alloh memilih
dan memerintahkan sang nabi untuk melabuhkan kapalnya di gunung judi itu.
لباسكم يكرمكم قبل
جلوسكم وعلمكم يكرمكم بعد جلوسكم
Pakaianmu memuliakan mu
sebelum engkau duduk, dan ilmumu memuliakanmu setelah engkau duduk.
Di ceritakan beliau pernah menghadiri
undangan dan beliau membawa sopir yang kebetulan memakai peci haji, ketika sudah turun malah yang di
salami sopirnya bukan beliau, dan ketika
sudah waktunya beliau memberi tausyiah orang orang baru tau yang di undang
adalah yang memakai peci hitam yang tidak mereka salami.
Ilmu dengan akhlak/ budi pekerti
memang harus di barengkan , dan ketika kita menjenguk orang sakit kita sebagai
orang yang menjenguk juga harus memakai akhlak , kita membesarkan hatinya biar
ada semangat untuk sembuh dari sakit itu, apalagi kita terhadap guru yang sangat ada hubunganya dengan ilmu yang
kita serap dari guru itu sendiri. Intinya
ahlak kepada guru itu mencari ridhonya , menjauhi marahnya dan mengikuti
apa perintahnya selagi yang tidak melanggar syari'at/ ma'siat kepada Alloh .
Termasuk ahklak kepada guru yaitu tidak berjalan di depan beliau kalau ada
jalan lain lebih baik lewat jalan lain yang tidak melawati/ mendahului guru
kita tersebut. Seperti ungkapan sayyidina Ali yang kurang lebih " aku
melihat yang harus lebih di laksanakan melebihi hak adalah haknya seorang
guru karena sudah mengajar satu huruf
kepada kita. Hak guru itu melebihi haknya
kepada kedua orang tua kita. Imam ghozali juga berpendapat karena orang tua
kandung kita yang terpikirkan kebanyakan bagai mana anaknya mapan di dunia,
bila seorang guru yang terpikirkan bagai mana kehidupan di akherat kelak bisa
selamat atau tidak, dan kehidupan
akherat itu lebih baik dari pada kehidupan di dunia
والأخرة خير لك من الأولي
Sebab guru yang mengajar ngaji kita
itu adalah bapak agama kita. Salah satu contoh ahlak kepada guru kita adalah
"jangan pernah banyak Tanya kepada guru kita, santri kuno dulu bila
bertamu/ punya hajat di rumah guru tidak pernak ketuk pintu/ pencet bel. Saya
teringat kisahnya pada Mbah hasan mangli magelang, ketika mau sowan kepada Mbah
arwani "nanti setelah isya' kesini ya? Kata mbah Arwani kepada mbah Hasan mangli.
ketika mbah mangli kembali sowan kebetulan waktu itu keadaannya sangat sepi
sekali, bahkan tidak ada seorang pun yang beliau jumpai, mbah mangli yang sudah
di beri waktu setelah isya tidak berani ketuk pintu menunggu hingga sampai
waktu pukul 03 pagi, lalu ketika sudah hampir subuh menjelang mbah mangli pergi
di masjid menara kudus untuk melaksanakan sholat subuh di masjid itu, dan
setelah subuh beliaupun kembali untuk menunggu di depan ndalem Mbah Arwani yang
kebetulan waktu itu ketika sudah sampai di ndalem Mbah Arwani sudah memulai aktifitas ngaji setelah
subuh, dan akhirnya menunggu lagi sampai jam 07 pagi baru bertemu dengan Mbah
Arwani. "lho tadi malam saya sudah menunggu di rumah kok , la kamu di
mana? Tanya mbah arwani. " saya menunggu di luar ndalem yai, begitulah
salah satu contoh ulama' kita dulu.
Imam fahruddin al arsyabandi adalah
para pemimpin imam di marwa, beliau di sana menjadi sosok yang betul betul di
hormati oleh semua kalangan, bahkan sang raja pun juga mengistimewakan beliau. Suatu
ketika beliau di Tanya oleh seseorang, begitu mulianya anda? Kalau boleh tau
amalan apa yang anda lakukan sampai bisa mendapatkan kemuliaan ini?. Saya rasa
kan yang menjadi kan saya mulia, itu dikarenakan saya menghormati dan
memuliakan guru saya Abu yazid al andalusi, saya menjadi tukang masak beliau, meskipun
saya menjadi tukang masak saya tidak penah mencicipi masakan yang saya masak
untuk beliau, sebab perintah beliau kepada saya hanya di suruh memasak saja dan
beliau tidak pernah perintah selainya.
Yang terpenting bagi kita adalah
bagai mana kita mempraktekkan ilmu kita , sebab tidak ada gunanya bila kita
mempunyai ilmu dan kita tidak mengamalkannya. Sebab bila kita mau mengamalkan
ilmu yang sudah kita peroleh maka Alloh akan memberikan ilmu ilmu yang lain
kepada kita.
Mungkin cukup sekian semoga bermanfaat
wassalam
Disampaikan oleh KH Hassan Fauzi di auditorium PTYQ putra kudus 06 desember 2014 H
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar